Hasil Pencarian Dari : "Kesehatan"
Pengen Six Pack ? Hindari Makanan Ini !

FAUZYMUFC - Jakarta, Banyak laki-laki yang mengidam-idamkan memiliki tubuh six pack . Tapi sayangnya, hal ini bukan perkara mudah.
.
Selain latihan, rupanya ada beberapa
makanan yang dapat menggagalkan
pembentukan otot Anda, seperti dilansir
Foxnews, Senin (25/7/2016) berikut ini:
.
1. Biji-bijian olahan
.
Peneliti Pennsylvania State University
menemukan, orang yang makan biji-bijian ditambah buah-buahan, sayuran, produk susu rendah lemak dan protein-demi menjaga kesehatan rupanya kehilangan
berat di area perut dibanding mereka yang
dietnya sama tapi makan biji-bijian olahan.
Biji olahan termasuk nasi putih, roti putih,
dan pasta putih biasa. Sebaliknya, konsumsi biji alami seperti tepung gandum, beras
merah dan quinoa.
.
2. Produk kentang
.
Dalam penelitian yang dilakukan selama 20 tahun, produk kentang seperti keripik
kentang menjadi sumber kenaikan berat
badan paling tinggi. Pasalnya, camilan ini
menaikkan berat badan hingga 3,35
pound ( 151 kilogram) tiap 4 tahunnya.
Jadi, cobalah hindari makanan ini jika Anda sedang dalam pembentukan tubuh six pack.
.
3. Daging merah atau olahan
.
Dari penelitian yang dilakukan selama 20
tahun, posisi selanjutnya sebagai makanan penambah berat badan yaitu daging merah
maupun olahannya. Karena setiap 4
tahunnya, mereka bertambah 1 pound.
.
4. Makanan beku
.
Makanan beku juga bisa membuat gemuk terutama karena mengandung lemak jenuh.
Contoh makanan yang mengandung lemak jenuh, yaitu makanan yang dipanggang
setengah matang, makanan camilan, dan
pizza beku.
.
5. Diet soda
.
Kita mudah tertipu oleh label pada
minuman bersoda yang mengatakan nol
kalori. Padahal, minuman soda apapun
pasti mengandung gula buatan yang
menyebabkan gemuk. Dalam penelitian
terhadap tikus yang diberi minuman dengan gula buatan (saccharin, aspartam dan
sucralose) akan rentan terhadap resistensi insulin dan intoleransi glukosa yang juga menyebabkan gemuk.

Food , Kesehatan

Jul 25, 2016
Cara Menangani Penyakit Bipolar

Jakarta - Orang yang hidup dengan gangguan bipolar (GB) tentunya harus mendapat penanganan yang tepat, sebab jika dibiarkan atau dijauhkan akan berujung pada keinginan bunuh diri.
Diperkirakan sebanyak 25 persen hingga 50 persen pasien gangguan bipolar telah mencoba bunuh diri. Setidaknya selama hidupnya terdapat 8 persen hingga 19 persen yang berhasil bunuh diri.

Memang tak ada data konkret berapa besar angka kematian akibat bunuh diri, sebab setiap kasus bunuh diri selalu dialihkan, lanjut Nurmiati, seperti teridentifikasi keracunan cairan pembasmi serangga atau teridentifikasi luka sayat bukan terindentifikasi bunuh diri.
Dalam "Seminar Media Gangguan Bipolar VS Fenomena Bunuh Diri di Kota Besar", Rabu lalu, Dr. dr. Nurmiati Amir, SP.KJ (K) dari RSCM mengatakan, "Bunuh diri ini sebenarnya bisa dicegah, tetapi sayangnya bukan prioritas bagi pemerintah."
Untuk menanggulangi atau mencegah peningkatan kasus bunuh diri pada pasien GB, ikuti panduan atau tatalaksana bipolar yang baik berikut ini:

1. Wawancara dan pemeriksaan fisik
Melakukan evaluasi dan pemeriksaan terhadap status kejiwaan pasien. Status kejiwaan pasien sangat bergantung pada tingkat depresi, hipomania, mania yang terlihat pada fase tertentu.
2. Diagnosis
Dilakukan untuk menentukan episode dan tipe gangguan bipolar. Episode gangguan bipolar yaitu, depresi, manik, hipomanik, campuran.
3. Pengobatan
Pengobatan sangat tergantung pada jenis episode yang dialami seperti depresi atau mania dan tingkatan episode. Mengontrol emosi pasien merupakan kunci penanganan bipolar. Penanganan pasien menggunakan obat Sodium Valproate dapat mengontrol perubahan mood dan mencegah kekambuhan.
4. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar
Upaya untuk meningkatkan kepedulian terhadap pasien bipolar membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan tersebut juga berfungsi mencegah penyalahgunaan obat-obatan dan situasi yang memicu kekambuhan. Serta mencermati tatalaksana komprehensif meliputi intervensi farmakologi dan non-farmakologi.
Kesehatan , Tips

Jun 23, 2016
Tahukah Anda, Mengapa Rasa Pedas Cepat Hilang dengan Air Hangat?


JAKARTA - Upaya menghilangkan rasa pedas atau panas di dalam mulut setelah makan cabai atau sambal dengan minum air dingin atau es malah akan menambah rasa pedas lebih tajam. Sebaliknya, bila kita minum air hangat akan mengurangi rasa pedas tersebut.
Tahukah Anda, mengapa minum air hangat bisa lebih cepat menghilangkan rasa pedas dibanding air dingin.
Ternyata air dingin hanya memberi efek rasa enak, sementara rasa pedas masih ada. Apabila rasa dingin hilang, efek pedas akan lebih tajam disebabkan perbandingan rasa antara dinginnya air dengan pedasnya atau panasnya cabai terlalu jauh.
Bila kita minum hangat, selain perbandingan rasa yang tidak terlalu jauh, air hangat juga merangsang ujung-ujung saraf yang mengirimkan pesan ke susunan saraf pusat sampai ke otak.
Kemudian merangsang otak untuk memerintahkan tubuh mengeluarkan zat yang bersifat analgesik atau penghilang rasa sakit secara alami. Sehingga rasa pedas pun berkurang. Demikian dirangkum dari "Kisah 1001 Fakta Sains Tersuper di Dunia", Kamis (26/5/2016).
Air , Food , Kesehatan

May 26, 2016
Kenapa Tetap Gemuk Meski Rutin Olahraga
Kenapa Tetap Gemuk Meski Rutin Olahraga?

Jakarta - Gaya hidup tidak aktif atau sedentary kian mengintai masyarakat Indonesia. Segala kemudahan untuk mendapatkan sesuatu membuat sejumlah orang kini mengalami obesitas.

Dalam riset IHME, merujuk Riset Kesehatan Dasar 2007 dan 2010, Indonesia masuk 10 besar negara dengan orang gemuk terbanyak. Menurut Riskesdas 2013, prevalensi orang gemuk lebih besar.

Pakar olahraga dr. Sophia Hage, SpKO, mengatakan,
 sedentary bukan hanya masalah olahraga rutin melainkan kebiasaan yang tidak aktif seperti sering berada di depan komputer, menonton tv atau sekedar membuka sosial media sambil duduk selama lebih dari 8-11 jam.Ironisnya, meski kadang diimbangi dengan olahraga rutin, kebiasaan kurang gerak ini tidak cukup untuk mencegah kematian akibat diabetes dan penyakit kardiovaskular.

"Meski dia olahraga, tapi kalau lebih lama duduk akan jauh berisiko memiliki penyakit ketimbang orang yang tidak olahraga tapi dia aktif, misalkan dia melakukan pekerjaan rumah tangga, aktif jalan ketika berangkat kerja," katanya di sela-sela acara 
Healthy Takshow bersama Liputan6.com, di SCTV Tower, Jakarta, Selasa (24/5/2016).

Duduk terlalu lama, kata dia, akan menyebabkan penurunan metabolisme termasuk berkurangnya massa otot di tubuh. Akibatnya, kadar gula darah dan kolesterol tinggi (LDL naik sedangkan HDL turun). 

"Dalam tahap ini, dia belum menderita diabetes tapi orang yang sedentary ini berisiko tinggi mengalami intake gula lebih tinggi (gangguan toleransi dalam menyerap gula dalam sel)," ujarnya.

Apabila ini terjadi, maka risiko obesitas meningkat lebih dari 100 persen. Dan seseorang dapat mengalami sindroma metabolik atau kumpulan gejala lingkar pinggang, kolesterol tinggi yang mengarah pada penyakit kardiovaskuler seperti jantung dan stroke.

"Biasanya apa yang Anda lakukan sepulang kerja? menonton YouTube atau duduk menonton TV? Penelitian menunjukkan, setiap penambahan satu jam menonton TV, akan terjadi peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardio hingga 28 persen," ujarnya.
Untuk mencegah penyakit, selain olahraga, perhatikan juga kebiasaan sedentary. "Banyak fokus olahraga, tapi tidak melakukan apa-apa juga memicu penyakit. 

Rekomendasi 10 ribu langkah bila perlu dijalani. Meski hal ini tidak dapat dicapai dari kantor ke rumah, tapi minimal saat makan siang, luangkan 30 menit untuk berjalan kaki."
Selain itu, modifikasi juga aktivitas fisik Anda sesuai dengan kondisi medis. 

Misalnya orang yang mengalami nyeri punggung bawah (HNP) sebaiknya tidak melakukan naik turun tangga. Dia bisa berjalan mengelilingi komplek atau bersepeda.

"Jangan takut ke dokter untuk mengonsultasikan kondisi kesehatan Anda, jangan takut aktivitas fisik dan usahakan berdiri setiap duduk selama 1-2 jam," tuturnya.
Gemuk , Kesehatan , LifeStyle , Olahraga

May 24, 2016
Manfaat Telur Rebus sebagai Teman Makan Siang

Manfaat Telur Rebus sebagai Teman Makan Siang

4 Manfaat Telur Rebus sebagai Teman Makan Siang
Telur Rebus baik untuk kesehatan (Foto: Huffingtonpost)

TAK hanya baik untuk sarapan saja, tetapi telur rebus juga baik sebagai teman makan siang. Telur mengandung protein, mineral, dan juga vitamin B12.
Selain membuat berenergi, telur bisa membantu diet lho. Kulik manfaat ketika mengonsumsi telur rebus di siang hari:
Rendah kalori
Telur rebus hanya mengandung 78 kalori. Hanya dengan makan dua telur saja di siang hari, sudah membantu mengisi perut kosong Anda.
Menjaga Metabolisme
Telur dipercaya sebagai makanan yang baik untuk menjaga metabolisme. Tubuh membutuhkan energi ekstra yang terdapat dalam telur. Jadi, mengonsumsi telur juga mendukung diet seseorang.
Menunjang Kesehatan Mata
Telur mengandung dua jenis antioksidan, yaitu lutein dan zeaxathin. Keduanya berperan untuk merawat kesehatan mata dari dalam tubuh.
Suplemen yang Baik
Telur merupakan suplemen yang baik untuk tubuh seseorang. Jika Anda termasuk orang yang gila fitnes, telur bisa menjagi teman baik Anda. Demikian dikutip Boldsky,Senin (9/5/2016).
(jjs)
Food , Kesehatan , LifeStyle

May 20, 2016
Orang Bertubuh Pendek Tak Rentan terhadap Kanker

Orang Bertubuh Pendek Tak Rentan terhadap Kanker
Bertubuh pendek tidak rentan terhadap kanker (Foto: Thehealthsite)

PRIA yang berbadan tinggi memang terlihat lebih atraktif, atletis, dan sukses. Demikian pula wanita terlihat lebih menarik dengan tinggi badan yang semampai.
Pola pikir seperti ini, dapat menggiring beberapa orang yang kurang puas dengan tinggi badan mereka. Adapun keputusan untuk melakukan operasi tulang, agar badan terlihat tinggi dan atraktif.
Di luar pola pikir tersebut, ternyata ada keuntungan yang menyehatkan bagi mereka, pria dan wanita, yang memiliki tinggi badan rendah. Jurnal PLoS One mengungkapkan orang yang tak berbadan tinggi cenderung memiliki waktu hidup lebih lama.
Penelitian yang melibatkan 8.000 orang Jepang dan Amerika, dilakukan selama 40 tahun. Kesimpulan dari studi tersebut menyebutkan mereka yang berbadan tinggi rentan terhadap kondisi kronis, ketimbang mereka yang berbadan rendah.
Riset lain dari Jurnal Cancer Causes & Control (2014) menjelaskan pria dan wanita yang berbadan tinggi memiliki risiko kanker lebih besar, bahkan mengakibatkan kematian. Studi ini melibatkan 38.862 partisipan yang terdiagnosa kanker. Studi lainnya mengatakan bahwa wanita tinggi cenderung berpotensi terkena kanker rahim dan kanker payudara. Sedangkan pria yang berbadan tinggi berpotensi mengidap kanker prostat dan gangguan pada usus.
Jadi, bagi Anda yang memiliki tubuh pendek, jangan berkecil hati karena Anda mengantongi keuntungan kesehatan yang besar. Demikian dilansir dari Thehealthsite, Jumat (20/5/2016).
(hel)

Kanker , Kesehatan , LifeStyle

Ini Gejala 'Tersembunyi' Serangan Jantung


Winston-Salem - Menurut sebuah penelitian, banyak orang tak sadar mereka pernah menderita serangan jantung. Hal tersebut terjadi karena tidak terdapat tanda-tanda penyakit jantung pada umumnya sehingga si penderita tak menyadarinya.

Para ahli berkata, 45 persen orang yang mengalami serangan jantung diam-diam tak menyadarinya. Mereka justru mengira menderita tegang otot atau gangguan pencernaan.
Gejala lain yang dirasakan adalah flu, kelelahan yang tidak dapat dijelaskan, dan perasaan tak nyaman di rahang, punggung atas, maupun lengan.

Serangan jantung diam-diam dapat menyebabkan kerusakan yang sama seperti serangan jantung langsung. Namun jenis tersebut tak ditandai dengan gejala layaknya serangan pada umumnya, seperti nyeri di dada atau lengan.

Dikutip dari Independent, Rabu (18/5/2016), hal tersebut menyebabkan penderita serangan jantung diam-diam tak mencari pengobatan yang dapat mencegah terjadinya serangan jantung berikutnya.

Penelitian yang dipublikasi di jurnal American Heart Association, Circulation, menemukan orang yang mengalami serangan jantung 'tersembunyi' 3 kali lebih berisiko meninggal karena penyakit jantung dan 34 persen lainnya meninggal akibat penyebab lain.
Para peneliti melihat rekam medis 9.500 pria dan wanita paruh baya dari tahun 1987 hingga 2013. Mereka menemukan 7,4 persen dari mereka mengalami serangan jantung.

Dari kelompok tersebut, 317 dari mereka mengalami serangan jantung diam-diam, sementara 386 lainnya memperhatikan gejala serangan jantung pada umumnya.
Ketua peneliti, Dr Elsayed Soliman dari Wake Forest Baptist Medical Centre, North Carolina, menemukan serangan jantung diam-diam biasanya dialami oleh pria, namun lebih berbahaya pada wanita.
Menurut penjelasan Dr Soliman, pasien yang menderita serangan jantung diam-diam harusnya diobati seolah-olah mereka menderita gejala yang biasa.


"Para dokter harus berhenti merokok, mengurangi berat badan, mengontrol kolesterol dan tekanan darah, serta berolahraga lebih," ujar Dr Soliman memberi saran.

Serangan jantung diakibatkan karena aliran darah menuju jantung terhambat, di mana dapat menyebabkan jaringannya rusak atau mati. Untuk mendeteksi serangan jantung diam-diam, dokter biasanya menggunakan elektrokardiogram (EKG).

Serangan jantung merupakan pembunuh nomor satu di dunia. Berdasarkan data oleh badan kesehatan PBB atau WHO, 7,4 juta orang meninggal pada tahun 2012 akibat penyakit ini.

Para ahli meyakini banyak pasien yang meninggal karena penyakit tersebut, sebelumnya telah menderita serangan jantung tanpa mengetahuinya.



"Penelitian ini menekankan individu dengan hasil EKG yang menunjukkan kemungkinan pernah mengalami serangan jantung namun tak memilki gejala normal, harus diselidiki lebih lengkap untuk menentukan kebutuhan pengobatan mereka ke depannya," ujar Direktur Asosiasi Medis di British Heart Foundation, Profesor Jeremy Pearson.
"Karena dipelajarinya pasien dalam penelitian ini, diagnosis serangan jantung telah meningkat secara signifikan...," tambahnya.

Menurutnya, jumlah orang yang diperiksa dan diobati untuk menghindari serangan jantung juga telah meningkat secara siginfikan sejak 1990-an.

"British Heart Foundation mendanai para peneliti menciptakan tes yang lebih baik untuk serangan jantung. Akhir-akhir ini mereka sedang membangun uji darah yang sensitif sehingga dapat memastikan apakah seseorang pernah mengalami serangan jantung...," jelasnya.
Gejala , Jantung , Kesehatan

May 18, 2016